Janggut Berkumis


Let’s Vote!!

Jul
07

Wah besok, 08 Juli 2009, udah mau pemilu pilpres lagi nih! Ayo-ayo yang udah punya hak pilihnya jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini ya. Gunakan hak pilih kalian sebaik-baiknya dengan memilih pasangan yang pas di hati. Apalagi sekarang Indonesia uda mulai terbuka, para capres dan cawapers sudah berani untuk diadu dalam suatu acara publik (baca: Debat Capres), jadi kita bisa melihat terlebih dahulu gambaran kasarnya para capres&cawapres kita plus orang-orang di sekitarnya. Saya setuju dengan pernyataan Bapak JK pada debat terakhir (bukan berarti saya dukung beliau loh yaaa hehe) yaitu bahwa yang terbaiklah yang menang jadi kita harus menghargai siapapun yang akan menjadi presiden dan wakil presiden berikutnya. Pokoknya siapapun yang akan terpilih nantinya, mari kita songsong perubahan untuk Indonesia yang lebih baik!

*duh dah ga sabar milih nih, hehe*

….

Jun
10

ah, sudah lama sekali saya tidak meng-update blog ini

padahal banyak sekali hal yang seharusnya bisa ditulis

entah tentang manohara dengan drama kehidupannya

ataupun juga prita yang sudah jatuh tertimpa tangga pula

capres dan cawapres pun cukup menarik untuk bisa ditulis

namun apa daya

saya terlalu malas saat ini

Ini pun hanya tulisan pemanis untuk sekedar meng-update blog saya saja

Masihkah Kau Mencintaiku?

Apr
30

“…Masihkah Kau Mencintaiku

Walau Kutahu Kau Terluka…”

Kesannya gw lagi mellow ya? Hahahha tentu saja tidaaak. Dua baris tulisan diatas bukan tulisan gw kok, tapi sebagian lirik lagu band temen gw, Rizki Mardian. Tapi, gw juga bukan mau bahas ituuu, melainkan acara baru di RCTI yang baru gw liat semalem: Masihkah Kau Mencintaiku.

Jadi ceritanya acara ini bermaksud sebagai sarana komunikasi bagi pasangan suami istri yang udah mau cerai gtu, biar hal2 yang  mungkin saja selama ini males diomongin jadi terkomunikasikan. Baik dari pihak cowok maupun pihak cewek membawa serta orangtua masing-masing dan anaknya * kalo dah punya*. Lalu si presenter, helmi yahya & dian nitami, menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada kedua belah pihak dan dilihat apakah jawaban mereka match atau tidak. Nah, dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang bakal menimbulkan perang antar keluarga *dan disinilah letak serunya :b haha*. Selain itu, ada psikolognya juga si dua orang, yang nantinya memberi pendapat.

Mereka berdebat, menangis, dan saling menyalahkan satu sama lain (baik pasangan itu maupun orangtuanya, hmm lebih tepat para ibunya). Pokoknya gontok-gontokan deh. Dan disitu ada anaknya dooong dan juga pertengkaran itu berarti diperlihatkan ke khalayak publik gtu ~yaaah walaupun mereka semua make penutup mata ala pesta topeng. Hmm ga malu ya? Membawa urusan rumah tangga ke khalayak ramai, dipertontonkan? Hee, hidup ini penuh pilihan sih, jadi ya gpp juga kalo mereka emang dah sepakat dan apalagi kalo ujungnya happy ending alias ga jadi cerai ~walau gw ga bisa jamin juga hubungan antara keluarga masih baik-baik aja, hahaha wong udah gontok2an gtu sebelumnya :b

Bukan Aku Tak Suka Politik

Apr
23

Tapi kelakuan orang-orang di dalamnya sering membuatku tergelitik

Mengatasnamakan wong cilik

Yang bahkan sama sekali tak sempat mereka lirik

Untuk sekedar meraih simpatik

Sebagai sebuah Taktik

Agar mereka dapat terlantik

Let’s Join Global Community from Studying in Holland

Apr
21

Semua pasti dah pada tau kalo kita ini lagi hidup di jaman yang namanya era globalisasi. Hmm tapi kalo ngomongin masalah globalisasi, sebenernya prosesnya udah terjadi dari dulu banget loh, bahkan dari jaman Ken Arok masih memperebutkan cinta Ken Dedes. Kok gitu? Ya Karena kalo berdasarkan mbah wiki, globalisasi itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lainnya [1]. Dan bukankah perdagangan antar negara udah terjadi dari beribu-ribu tahun yang lalu? Trus kalo gitu apa istimewanya globalisasi yang sekarang? Selain jumlah populasi manusia yang tentunya bertambah terus-menerus, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat menyebabkan proses globalisasi ini makin “menjadi-jadi”. Kita mau ga mau harus ikut terlibat dalam tatanan global yang udah ada and that means that we’ve got to be ready to compete with all people arround the world! Saingan kita bukan lagi sekedar tetangga kanan kiri doang, tapi mulai dari bule Amerika ampe bule Afrika juga masuk dalam daftar saingan kita.

Biar kita ga kalah dari warga dunia lainnya, kita harus bisa meningkatkan daya saing kita. Kalo ada pepatah yang menyebutkan “banyak jalan menuju Roma”, maka ada banyak cara pula biar kita bisa tetep exist di dunia yang serba global ini. Salah satu cara yang paling ampuh adalah menjadi bagian dari komunitas global itu sendiri, yaitu komunitas dimana warga dari berbagai belahan dunia berkumpul dengan segala keanekaragaman perbedaanya. Dengan segala kekayaan perbedaan yang terdapat dalam komunitas global, tentunya akan memperluas cara pandang kita terhadap suatu hal dan itu bisa menjadi sebuah nilai plus untuk kita. Kita juga bisa belajar banyak hal dari komunitas ini karena setiap bangsa tentunya memiliki karakteristiknya masing-masing, baik dalam hal etos kerja, inovasi dalam menciptakan sesuatu, dan segala hal positif lainnya yang bisa kita pelajari dari mereka. Selain itu, membiasakan diri dengan berbagai perbedaan yang ada dalam komunitas ini juga akan membuat kita terbiasa untuk berpikir secara global, sehingga nantinya kita dapat menghadapi setiap tantangan global yang ada.

Lalu, dimanakah letak komunitas global tersebut? Komunitas ini tentunya terletak di negara yang multikultural dan terbuka terhadap segala perbedaan yang terdapat di dalamnya. Dimana lagi tempat yang lebih tepat selain negeri Belanda? Selain terletak pada titik dimana kebudayaan Jerman, Inggris, dan Perancis bertemu, negeri asal bunga tulip ini merupakan negara yang terbuka dengan perbedaan. Hal ini ditandai dengan begitu mulikulturalnya masyarakat yang terdapat di dalamnya. Bahkan dalam kota Amsterdam saja terdapat 200 kebangsaan yang berbeda yang diantaranya adalah Jerman, Cina, Perancis, Turki, Belgia, Spanyol, Mesir, dan juga Indonesia. Dari sekitar 16 juta penduduk Belanda, 18% diantaranya merupakan warga keturunan. Keanekaragaman budaya inilah yang menjadikan negeri kincir angin ini sebagai tempat berkumpulnya pengetahuan, pemikiran, dan budaya dari berbagai penjuru dunia. Terbukanya masyarakat belanda bukan hanya dalam keterbukaan menerima perbedaan budaya, melainkan juga dalam keterbukaan pikiran. Hal ini sudah dirasakan sendiri oleh kawan kita, Eko Baskoro Harimulyo (19), yang melanjutkan studinya di Belanda. Dalam testimonialnya pada Nuffic Magazine: Life and Study 2009-2010, he said that:

“..Holland is a country that enjoys freedom of speech and thought. It makes students feel free to be themselves when giving their ideas and opinions. Dutch people are very open, they let you state your ideas and give advice if you need it..”

Jadiii, ga usa takut atau malu buat mengungkapkan sesuatu di negeri lahirnya sistem Problem Based Learning (PBL) ini. Nah, dengan adanya kultur keterbukaan tersebut tentunya ga akan membuat segala perbedaan dalam komunitas ini menjadi suatu halangan bagi setiap orang di dalamnya untuk dapat mengenal satu sama lain. Enak kan?

Lalu bagaimana cara menjadi bagian dari komunitas global tersebut? Salah satu cara masuk ke dalam komunitas tersebut adalah dengan menempuh studi di negeri bunga tulip ini. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan belanda yang interaktif dan fokus pada teamwork sehingga mendukung berbaurnya setiap elemen dalam komunitas tersebut. Belum lagi struktur masyarakat belanda yang non-hirarkis. Hal ini membuat pengajar-pengajarnya dapat dengan mudah bergaul dengan para peserta ajaranya. Oleh karena itu, dengan studi di negeri ini, tentunya akan membuat kita secara otomatis masuk dan menjadi bagian dari komunitas global tersebut. Masalah biaya? Ga perlu khawatir, karena selain biayanya yang memang tidak semahal pendidikan di negeri Paman Sam ataupun negeri asal Pangeran Charles, banyak pula beasiswa yang ditawarkan. Informasi-informasi seperti ini bisa kamu dapatkan di NESO Indonesia, salah satu lembaga yang merupakan wujud komitmen belanda dalam keseriusannya untuk membantu para pelajar dan masyarakat Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Belanda. Jadi, dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh komunitas global dan kemudahan yang ditawarkan sistem pendidikan belanda menuju komunitas ini, tunggu apalagi? Let’s join the global community from studying in Holland, just now! ^^


Referensi:

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi

Nuffic Magazine: Life and Study 2009-2010.

Caleg pada stress? Tanya Kenapa?

Apr
17

Awalnya sih gw ga gitu peduli denger berita-berita pasca pemilu, termasuk berita yang satu ini. Cuma lama-lama kok berita tentang ke-stressan para caleg yang kalah dalam pemungutan suara kemaren makin santer terdengar di telinga gw. Gw pun bingung. Kenapa si mereka stress? Karena dah ngeluarin duit banyak dan akhirnya terlanjur ngutang sana-sini? Kenapa sih mereka ampe sebegitunya mengincar kursi-kursi itu? Boooo! Bukannya jadi wakil rakyat tuh susahnya minta ampun ya? Masalah yang dihadapin rakyat indonesia ini kan banyak banget! Kemiskinan dimana-mana, gizi buruk, masalah kriminal lah, sistem perekonomian lah, ini itu dan masih buanyak yang lainnya. Gilaaaa! Tanggung jawabnya kan besar banget!

Sebenernya apa si yang ada dipikiran mereka saat mengiyakan untuk menjadi caleg? DUIT sajakah? Uedan kalo gitu! Emang ada ya orang kek gitu? Udah gitu ya mbok sadar juga lah dari awal, emang yang ngajuin jadi caleg mereka doang? Wong gw aja dah pusing liat foto bersliweran dimana-mana – ini orang-orang siapa sih? Foto model bukan tapi pasang tampang dimana2? Grrrrr ganggu pemandangan aja xp – seharusnya dengan kehadiran tebaran foto-foto itu aja mereka dah sadar diri untuk siap menerima kekalahan.

Oke tenang nur, tenang nur, informasi yang lo dapet ini kan dari acara-acara berita di tv atau koran, dan mereka itu jualan informasi. Kalo ga nampilin judul berita yang heboh, ga laku doong? Oke-oke, mulailah berpikir khusnudzon dan coba berpikir kalo jangan-jangan mereka stress buka karena hal-hal yang dah gw sebutin diatas tapi karena mereka sedih banget, kecewa berat, kesel karena ga bisa menjadi orang yang terjun langsung untuk membantu rakyatnya, dan juga untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi negeri ini. Mungkin ga ya? Heee :p

Nominativ VS Akkusativ

Mar
23

Lagi-lagi ini menyangkut penggunaan artikel dalam bahasa jerman. Selain ditentukan oleh gender, ribetnya lagi, dalam bahasa jerman, bentuk artikel ditentukan oleh posisi dari kata bendanya, yaitu apakah bertindak sebagai subjek (Nominativ Case) atau objek (Akkusativ Case). Posisi sebagai subjek berarti bahwa kata benda tersebut bertindak sebagai pelaku atau “tokoh utama” dalam pembicaraan. Misalnya adalah pada kalimat berikut:

Das ist eine Stühle – Itu adalah sebuah kursi

Pada kalimat tersebut, kursi bertindak sebagai subjek karena menjadi “tokoh utama” atau katakanlah fokus yang dibicarakan dalam kalimat. Oleh karena itu aturan yang berlaku adalah aturan untuk nominativ case. Sedangkan pada kalimat:

Ich esse einen Hamburger – Saya makan sebuah hamburger

maka aturan yang berlaku pada hamburger adalah aturan untuk akkusativ case, karena pada kalimat tersebut, hamburger bertindak sebagai objek bukan pelaku.

Untuk definite articles *definite articles dlm bhs inggris –> The*:

 

Nominativ case

Akkusativ case

Maskulin*

der

den

Feminin

die

die

Netral

das

das

Contoh kalimat:

(N): Der Fisch schmeckt gut – Ikan itu rasanya enak.

(A): Ich nehme den Fisch – Saya pilih ikan yang itu.

Untuk indefinite articles *indefinite articles dlm bhs inggris –> a/an*:

 

Nominativ case

Akkusativ case

+

-

+

-

Maskulin*

ein

kein

einen

keinen

Feminin

eine

keine

eine

Netral

ein

kein

ein

kein

Contoh kalimat dapat melihat dua kalimat yang diberikan sebagai contoh di awal. Untuk bentuk negatif, bentuk tersebut bermakna “tidak ada”. Misalnya:

(N): Da ist ein Elektroherd. Aber da ist kein Tisch.
(Disana ada sebuah kompor listrik. Tapi disana tidak terdapat sebuah meja)

(A): Und jetzt noch einen Teller Suppe! (Mari tambah sepiring sup lagi!)
Nein danke, bitte keine Suppe mehr. (Ga usa, makasi, saya tidak ingin sup lagi)

Untuk possessive articles *kepunyaan, sep: yours, my, dll*:


Nominativ case

Akkusativ case

Ich

(Saya)

Maskulin*

mein

meinen

Feminin

meine

meine

Netral

mein

mein

du

(Kamu, informil)

Maskulin*

dein

deinen

Feminin

deine

deine

Netral

dein

dein

Sie

(Anda)

Maskulin*

Ihr

Ihren

Feminin

Ihre

Ihre

Netral

Ihr

Ihr

er

(dia laki2)

Maskulin*

sein

seinen

Feminin

seine

seine

Netral

sein

sein

sie

(dia perempuan/ mereka)

Maskulin*

ihr

ihren

Feminin

ihre

ihre

Netral

ihr

ihr

Contoh kalimat (nominative case):

Ist das deine Kamera? Nein, das ist seine Kamera.
Apakah itu adalah kamera mu? Bukan, itu adalah kamera miliknya (nya disini merujuk pada dia laki2)

*Perhatikan bahwa perubahan bentuk artikel dari nominativ menjadi akkusativ hanya terjadi pada benda yang bersifat maskulin, lainnya tidak mengalami perubahan bentuk artikel.

Semoga bermanfaat, CMIIW ^^

Kemana Aku Harus Mengadu?

Mar
13

Kepada sang maha pendengar dong nur, hehe ya iya doong, yang itu mah uda pasti. Tuhan mah udah pasti tau semuanya, dari apa yang gw lakuin sampe apa yang gw pikirin. Nah sekarang gw mau ngadu ke para manusia yang bertugas sebagai penampung aspirasi masyarakat indonesia perihal masalah per-kereta apian. Kenapa gw harus ngadu ke mereka? Yaa manusia kan ga maha tau, makannya gw pengen berkeluh kesah sedikit perihal ketidaknyamanan gw dalam berkereta biar mereka jadi tahu dan bisa memperbaiki apa yang mau gw keluh kesahkan ini.

Apa yang mau gw keluh kesahkan ini bukan masalah ketidaknyamanan di dalam keretanya. Kalo masalah sumpek dupek ampe bikin pejal yang benar2 pejal di dalem kereta mah emang udah resiko kalo naek kereta ekonomi doong, tul ga? Hehe. Yang mau gw protes ini jutrus bukan masalah di dalam kereta apinya itu sendiri melainkan sebelum naik keretanya. Loh?loh? Trus? Terus yaa di pelayanan petugas loketnya. Kisah ini bukan gw yang alamin sih, tapi ama bapak-bapak yang ngantri beli tiket KA di stasiun ju*nd* tepat di depan gw.

Bapak-bapak kelelahan karena seharian bekerja : “Mas, satu ekonomi ya”
Petugas loket juket yang juga udah lelah karena seharian bekerja: “Kemanaa pak?” /*Jutek mode is ON*/
Bapak-bapak kelelahan karena seharian bekerja: “Ekonomi ya mas, satu” /*Skip mode is ON*/
Petugas loket juket yang juga udah lelah karena seharian bekerja: “YA SAYA JUGA TAUUU PAK, KALO BAPAK MAU NAEK KERETA EKONOMIIII, TAPI KEMANAAAA??/*sumpa ya Ini bukan sekdar jutek lagi, tapi NGEBENTAK! Be-en-te-a-ka, BENTAK!*/
Bapak-bapak kelelahan karena seharian bekerja: ———- bengong beberapa detik———- ooh, depok
Petugas loket juket yang juga udah lelah karena seharian bekerja: NAAAHHHH yang saya tanya tuh KEMANAAA PAAK, BUKAN BLA BLA BLA….. gimannaa si./*ngebawel pake otot*/
Bapak-bapak kelelahan karena seharian bekerja: Oh maaf tadi saya ga denger

Zzz, sumpah ya gw yang lagi ngantri di belakangnya tuh rasanya pengen ngebentak mas-masnya balik deh!Bayangin aja, dia ga sekedar jutek loh, tapi ngebentak! BENTAK! Ngebentak pembeli tiket! Ya ampuun ampe detik ini aja gw masih ga abis pikir loh. Nih ya, gw ga minta pelayanan yang ramah dan menyenangkan kok dari petugas loket stasiun kereta api, terserah deh ya dia mau jutek masang muka sejelek apapun, tapi ga untuk MEMBENTAK! Itu kesalahan besar! Dan gw pengen banget ngaduin masalah ini ke lembaga yang berwenang. Ada yang tau?

Tuhan aja Maha Pemaaf, Masa Kita Ga?

Mar
12

Pernah denger kalimat kek gtu sebelumnya kan? Kalimat itu biasanya dipake untuk mendorong seseorang agar bisa memaafkan orang lain.

Tapi kok gw ngerasa kalimat itu bukan kalimat yang pantes kita ucapin ya? Nah lo, kok gtu? Coba aja perhatiin contoh-contoh kasus ini:

Bayangin ada ibu-ibu yang merasa dirinya orang paling kaya raya sekomplek trus tiba-tiba ternyata tetangga sebelahnya baru aja beli tas merek terkenal dengan hiasan berlian dimana-mana yang membuat harga tas itu mungkin bisa membiayai makan  satu keluarga selama setahun. Pasti ibu-ibu bakal bilang gini ke suaminya:

“Paaaaaaa, si bu xxxx aja punya tas model ini, masa aku ga punya si paaa?. Besok pokoknya kita harus beli tas ini ya paa?”

atau, katakanlah seorang atlit fakultas yang menjurai olimpiade se-universitas tahun kemarin lalu diutus lagi tahun ini dan akan menghadapi fakultas zzz. Temannya mungkin ada yang memberi semangat dengan ucapan gini nih:

“Kemaren aja lo dah ngalahin semua fakultas bro,! Masa sama fakultas zzz aja kalah? Ga bakal broo,!”

Jadi, walaupun niat dibalik kalimat itu emang baik, tapi gw ngerasa kalo kalimat yang gw pake buat judul postingan ini justru kalimat yang merendahkan Tuhan — karena seolah-olah menempatkan posisi kita harus lebih tinggi dariNya– . Hehe any complain?

How to Determining Gender?

Mar
11

Di jaman sekarang ini emang udah susah si nentuin gender dari seseorang, hehe tapi bukan itu yang mau dibahas di sini. Berhubung di semester ini lagi nyangsang belajar bahasa jerman di fakultas sebelah, jadi sekalian belajar, sekalian berbagi juga nih masalah tentang gimana caranya kita tau gender dari suatu benda.

Nentuin gender benda? Ga salah tuh? Ga doong, soalnya dalam bahasa jerman, tiap benda itu emang punya gender, entah Maskulin, Feminin, atau netral. Trus kenapa kita harus tau gender dari suatu benda? Soalnya itu mempengaruhi penggunaan artikel yang mengikuti kata benda tersebut. Penggunaan artikel itu sendiri ada banyak aturannya, nah untuk sekarang ini kita pake penggunaan artikel untuk nominative case, dimana benda ditempatkan dalam posisi sebagai subjek. Untuk kata benda yang bersifat maskulin, maka akan diikuti oleh artikel der, untuk feminin, akan diikuti oleh artikel die, dan untuk yang netral, akan diikuti oleh artikel das.

Nah sekarang kita masuk ke karakteristik dari masing-masing gender. Untuk menentukan apakah suatu benda itu bersifat maskulin, kita bisa liat karakteristik dari kata benda maskulin di bawah ini nih:

1) Kata benda yang memang merefer pada jenis kelamin pria, cth: der vater (Ayah), der opa (kakek)
2) Banyak kata benda yang berakhiran -er, -en, dan -el, cth: der lehrer (guru), der wagen (mobil), der mantel (mantel)
3) Nama hari, bulan, dan musim, cth: der freitag (jumat), der februar (februari), der sprung (musim semi)
4) Kata asing dengan aksen pada suku kata terakhir, misalnya: der elefant (gajah)
5) Kata benda dengan akhiran -ich, -ig, -ismus, -ist, -ling, dan -us, cth: der teppich (karpet), der käfig (sangkar), der kommunismus (paham komunis), der kapitalist (kapitalis)
6) Banyak kata benda yang betuk jamaknya dibentuk dengan menambahkan (umlaut) + e, cth: der stuhl (kursi) dimana bentuk jamaknya adalah stühle

Untuk kata benda yang bersifat feminin, karakteristiknya adalah sebagai berikut:

1) Kata benda yang memang merefer pada jenis kelamin wanita, cth: die mutter (ibu), die oma (nenek)
2) Kata benda dengan bentuk jamak, misalnya: die stühle (kursi) – padahal bentuk singularnya bersifat maskulin, namun karena jamak maka sifatnya menjadi feminin
3) Kata yang menunjukkan bilangan, misalnya : die eins (satu), die hundert (seratus)
4) Banyak kata benda dengan akhiran -e dan -a, misalnya: die lampe (lampu), die batterie (baterai), die kamera (kamera), die pizza (pizza)
5) Kata benda dengan akhiran -in sebagai indikator dari profesi perempuan, misalnya: die reiseleiterin (pemandu wisata wanita), die lehrerin (guru wanita)
6) Kata benda dengan akhiran -ei, -heit, -keit, -ie, -ik, -nz, -schaft, -ion, -tät, -ung,dan -ur, misalnya: die explosion (ledakan)

Untuk kata benda yang bersifat netral, karakteristiknya adalah sebagai berikut:

1) Kata benda diminutive dengan akhiran -chen atau -lein, misalnya: das mädchen (anak perempuan)
2) Hampir semua kata benda dengan akhiran -nis, misalnya: das ereignis (acara)
3) Banyak kata benda dengan awalan Ge-, misalnya: das gesetz (hukum)
4) Kata benda yang merefer pada logam, misalnya: das gold (emas), das silber (perak)
5) Kata benda dengan akhiran -ment, misalnya: das experiment (eksperimen)
6) Kata benda dengan akhiran -tel, -tum, and -um , misalnya: das gymnasium
7) Hampir semua kata benda yang bentuk jamaknya dibentuk dari (umlaut) + er, misalnya: das Haus dimana bentuk jamaknya adalah die Häuser, das land dimana bentuk jamaknya adalah die länder

Ribet? Yaa emang ribeett, tapi wajar kok kalo kita masih suka kebingungan nentuin pake artikel yang mana (der, die atau das ya? ), karena bahkan orang jerman sendiri pun terkadang masih suka salah dalam penggunaan artikelnya, hehe. Berhubung saya juga masih awam, jadi cmiiw yaa ^^

Sumber: book-german grammar drills